PENINGKATAN PRODUKSI IKAN PAPUYU (Anabas testudineus Bloch) DENGAN SEKS RASIO YANG BERBEDA DALAM SISTEM BIOFLOK

Agussyarif Hanafie, Akhmad Murjani, Ferdawati Agustina, Bayu Indra Satriawan

Abstract


Perbedaan ukuran ikan jantan dan betina ikan papuyu (Anabas testudineus Bloch) dalam populasinya sangatlah prosfektif dilakukan penelitian karena akan berpangaruh terhadap variasi hasil panen  dalam rangka peningkatan produksinya.  Selain faktor genetik, perbedaan ini diduga disebabkan oleh adanya dimorfisme seksual terkait pertumbuhan. Teknologi budidaya sistem bioflok sekarang sudah mulai berkembang sebagai sistem yang mampu meningkatkan produksi 10 kali lipat dari pemeliharaan konvensional.  Penelitian ini dilakukan untuk menguji  seks ratio. Dimorfisme seksual terkait dengan pertumbuhan ikan papuyu secara kuantitatif pada pemeliharaan sistem bioflok.  Benih ikan umur dua bulan hasil pemijahan diambil secara acak sebanyak 7500  ekor dan dipelihara selama 120 hari di dalam 25 kolam bioflok diameter satu dengan padat  tebar 300 ekor.  Perlakuan terdiri dari 100 persen betina, 100 persen jantan, 50 :50 jantan : betina dan 25:75 : jantan : betina; 75:25 : jantan : betina; masing masing 5 ulangan. Ikan diberi pakan komersial berfermentasi  (protein > 30%) dua  kali sehari sebanyak 5% bobot tubuh. Pertambahan panjang baku menunjukkan bahwa perlakuan A berbeda sangat nyata dengan perlakuan C,D dan E.  Sedangkan dengan perlakuan B berbeda nyata.   Pertumbuhan panjang relatif terbaik pada perlakuan A dengan nilai 22,4693%, disusul perlakuan B dengan nilai 20,9021 %, perlakuan C dengan nilai 18,5387%, perlakuan D dengan nilai  17,5285%,  dan perlakuan E dengan nilai  13,6218%. Pertumbuhan bobot relatif terbaik pada perlakuan A dengan nilai 74,4834%, disusul oleh perlakuan B dengan nilai  70.3518 %,  C dengan nilai 66,79%, perlakuan D dengan nilai 61,65%, dan terendah pada perlakuan E dengan nilai 48,79%. Hasil uji BNJ (5%) = 3,416443, sehingga antara perlakuan menunjukkan bahwa perlakuan A berbeda sangat nyata dengan perlakuan C, D, dan E.  Peningkatan produksi yang terbaik adalah pada perlakuan A  sebesar 64,8649%. Hasil  Uji Anova kelulusan hidup ikan papuyu  dengan nilai F hitung (3,834008 ) > Ftabel 5% (2,8660) menunjukkan bahwa semua perlakuan berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup ikan papuyu.   Hasil Uji Lanjutan BNJ (5%) menunjukkan angka = 9,5068,  ini menunjukkan Survival Rate (%) perlakuan A, B, C, D, dan E tidak memiliki perbedaan. Hasil Uji Anova  konversi makanan (FCR) menunjukkan nilai F hitung (1227.6505) > F tabel 5% (2,8660) menunjukkan bahwa semua perlakuan  berpengaruh sangat nyata terhadap tingkat konversi pakan ikan papuyu.   Hasil Uji Lanjutan (5%)  menunjukkan nilai  0,03010,  menunjukkan bahwa perlakuan A berbeda sangat nyata dengan perlakuan B, C, D, dan E. Hasil pengukuran suhu selama penelitian berkisar 25,4 – 28°C. pH air menunjukkan kisaran pH yaitu 5,1 – 7,1. DO yang berkisar 1 – 3,92 mg/L. NH3 kandungan amoniak selama penelitian berkisar 10,13 – 0,32 mg/L. Hasil pengukuran kualitas air pada penelitian dilakukan terjadwal setiap sampling ikan dilakukan, pengukuran suhu ini dilakukan pada pagi hari saat suhu masih stabil, hal ini juga dilakukan untuk meminimalisir perubahan suhu pada wadah pemeliharaan. Kelimpahan flok adalah jumlah dari flok yang terbentuk disuatu perairan, kelimpahan flok dihitung dengan menggunakan inhole Cone. Rata-rata kandungan flok tiap perlakuan tidak mengalami perbedaan yang signifikan dengan kisaran 12,562 ±1,317 -  15,312 ±2,680. kandungan flok pada wadah pemeliharaan masih dalam batas normal.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.