PENGEMBANGAN JAMU GENDONG SEBAGAI UPAYA MEMPERTAHANKAN KEARIFAN LOKAL

Noer Komari Rahmat Eko Sanjaya

Abstract


Jamu adalah minuman tradisional terun temurun yang terbuat dari bahan tumbuhan sebagai salah satu bentuk kearifan lokal. Salah satu perajin jamu gendong di Komplek Perumahan Seribu Sungai Sipai Martapura Kabupaten Banjar menjalankan usaha jamu gendong secara komersial dengan penjualan jamu gendong rata-rata 10 hingga 15 botol per hari. Jenis jamu gendong yang dijual relatif disukai konsumen yaitu beras kencur, kunyit asam, dan pahitan. Permasalahan perajin jamu gendong antara lain proses produksi, pemasaran produk, dan pemanfatan limbah jamu. Program pengabdian bertujuan meningkatkan kualitas produk dan pemberdayaan mitra perajin jamu gendong melalui program penerapan Ipteks dalam hal perbaikan produksi, pamasaran dan pengolahan limbah. Perbaikan produksi dilakukan dengan Inovasi jamu sirup Djagen yang dapat diminum secara langsung atau bisa juga dinikmati dalam keadaan dingin agar menambah cita rasa segar saat diminum. Produk jamu sirup dikemas dengan kemasan yang modern dan kekinian untuk menarik minat konsumen. Inovasi jamu sirup ini dapat bertahan sekitar 3-4 hari dalam lemari es. Perbaikan pemasaran juga dilakukan melalui banner, spanduk dan media sosial. Sedangkan limbah jamu diolah menjadi kompos cair dan kompos padat dengan pemanfaatan EM4. Harapannya agar masyarakat berbagai lapiran tetap mengonsumsi jamu gendong, karena masih dipercaya khasiatnya dan aman dikonsumsi. Budaya minum jamu harus tetap dilestarikan sebagai bentuk keraifan lokal.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.