PENDAMPINGAN MITRA BINAAN MEMBANGUN KETAHANAN EKOLOGI DARI CEKAMAN KEMARAU 2023 DI DESA HINAS KIRI
Abstract
Setelah hampir lima tahun La-Nina mengirimkan hujan tanpa jeda musim kemarau di Indonesia, pada tahun 2023 musim kemarau panjang berlaku mengikuti perubahan El-Nino. Hasil panen yang diharapkan berlimpah, sebaliknya banyak petani gagal bertanam, karena kekurangan air akibat tidak turun hujan sepanjang lebih dari lima bulan. Upaya mitigasi telah dilakukan di desa Hinas Kiri, di kaki pegunungan Meratus di ketinggian 94 m dari permukaan laut. Kegiatan pendampingan terhadap mitra binaan melalui penerapan teknologi konservasi, mulai dari pembuatan Miyawaki forest, pemanfaatan model key-line dan embung sederhana telah diadopsi untuk mendukung kegiatan Permakultur. Perbaikan ceruk dan cekungan dikombinasikan dengan kemiringan lahan telah dikembangkan untuk dimanfaatkan sebagai kolam penampungan air. Mengurangi luas permukaan dan memperdalam kolam penampung telah dikerjakan untuk mengurangi luasan penguapan. Surplus air di musim kemarau (60%) telah dimanfaatkan untuk menyiram dan memelihara tanaman pangan dan perkebunan. Sehingga walaupun di musim kemarau panjang, hasil penjualan tanaman pangan dan hasil hutan non-kayu di kebun Permakultur masih memberikan pendapatan yang cukup kepada petani, hanya menurun 7%. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa kegiatan pendampingan ini dapat membantu mitra binaan dalam mengatasi tekanan kemarau panjang, hampir selama lima bulan tanpa hujan, dan direkomendasikan agar teknologi ini dapat dikembangkan untuk mengkonservasi air dalam skala tertentu untuk menghadapi musim kemarau di masa yang akan dating.
Full Text:
PDFRefbacks
- There are currently no refbacks.