PKM PROSPEK PENGEMBANGAN KONSENTRAT HEWANI ASAL BIOTA RAWA SUMBER PROTEIN TINGGI ITIK ALABIO PETELUR

Danang Biyatmoko, Tintin Rostini, Untung Santoso

Abstract


Ransum itik petelur saat ini masih tergolong mahal. Untuk menanggulanginya peternak melakukan pencampuran bahan pakan dalam penyusunan ransum itik dengan bahan pakan yang terjangkau harganya. Keterbatasan ini menjadi kendala penyediaan ransum itik Alabio petelur yang layak nutrisinya baik dari kualitas protein dan nutrisi lainnya. Oleh karena itu perlu alternatif bahan pakan yang berkualitas tapi terjangkau harganya, asal biota potensial unggulan rawa sebagai sumber protein ransum. Kegiatan bertujuan untuk menyediaan sediaan konsentrat bernutrisi tinggi asal biota rawa sebagai bahan pakan itik Alabio petelur untuk menurunkan harga pakan dan memperbaiki kualitas ransum itik petelur. Mitra kegiatan adalah kelompok itik Keraton di kecamatan Martapura Kabupaten Banjar. Kegiatan berlangsung dua bulan. Hasil pelaksanaan kegiatan adalah Identifikasi biota unggulan asal rawa yang potensial sebagai pakan itik petelur ada tujuh meliputi keong mas, kalambuai, haliling, siput isap, kepiting rawa, ikan-ikan kecil, dan belut rawa dengan hasil uji laboratorium di atas kadar protein 20%. Biota yang ada semua memenuhi persyaratan dan layak dibuat konsentrat hewani. Pembuatan konsentrat hewani dilakukan dengan tahapan pembersihan biota, pencucian, pengukusan, pengeringan, penepungan, dan pengemasan, serta pengujian nutrisi berupa kandungan protein kasar (PK) masing-masing konsentrat sample biota. Tahap akhir dikemas sebagai produk konsentrat hewani asal biota rawa. Feeding trial penerapan bahan pakan alternatif konsentrat biota rawa 30% dalam ransum itik mampu memperbaiki kualitas ransum itik utamanya protein (PK), yang berdampak pada peningkatan jumlah produksi telur dan prosentase produksi telur dari 67% menjadi 71,3%, serta penurunan harga ransum dari harga sebelum kegiatan sebesar Rp 5.630/kg menjadi Rp 3.560/kg setelah kegiatan. Konversi pakan (FCR) diperbaiki dari FCR 6,0 membaik menjadi 4,4 dan IOFC naik dari Rp 5,8 juta/bln menjadi Rp 6,6 juta/bln. Kesimpulan menunjukkan kegiatan pembuatan konsentrat hewani asal biota rawa prospektif di masa depan dan sangat membantu peternak meningkatkan keuntungan usaha itik petelur.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.