PONDOK PESANTREN DARUSSALAM DAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENANGGULANGAN COVID 19
Abstract
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memiliki ciri khas terdapat asrama, pelajarnya yang disebut sebagai santriwan-santriwati tidak terlepas dari aktivitas kehidupan di pondok pesantren selama 24 jam dari bangun tidur hingga tidur kembali. Begitu juga dengan kiyai, nyai, murabbi atau musyrifah yang menjadi pengasuh menjadi bagian dari pondok pesantren. Proses interaksi dan tatap muka di dalamnya penting dan tidak terpisahkan dalam tradisi pesantren. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kebijakan atau keputusan apa yang diambil oleh Pondok Pesantren Darussalam Martapura khususnya pada Sekolah Menengah Atas, pada proses pembelajaran dalam pencegahan Covid-19 tahun 2020- 2021. Selain itu juga berupaya mengetahui bagaimana implementasi kebijakan itu dilihat dari aspek aspek komunikasi, Sumber sumber, khususnya sumber daya ekonomi masyarakat atau kondisi ekonomi masyarakat, disamping yang dimiliki oleh lembaga pendidikan, serta kecenderungan atau tingkah laku masyarakat dan implementator. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam konteks kebijakan yang dijalankan oleh pondok pesantren dalam pelaksanaan implementasi kebijakan penanggulangan Covid-19 tahun 2020-2021 dalam prespektif relegius sudah berhasil dilaksanakan. Faktor komunikasi sebagai faktor yang sangat penting, karena dalam setiap proses kegiatan yang melibatkan faktor manusia dan sumber daya. Penanggulangan Covid 19 dalam perspektif religius di Pondok Pesantren Darussalam Martapura, dilihat dari aspek komunikasi adalah dengan ketetapan komunikasi dengan para pelaksana, konsistensi dari ukuran dan tujuan yang dikomunikasikan dengan sebagai sumber informasi. Keputusan Pondok Pesantren dalam Aspek Religius diantaranya adalah meliburkan pembelajaran dengan diterapkan cluster, diperiksa, kelas wustho bedahulu, ulya kemudian, menurut agama, dan hadist aspek religious. Protokol Kesehatan klusterisasi dengan berpedoman menurut hadist bahwa penyakit ini pada zaman Rasulullah. Selain itu para santri dan santriwati tidak boleh masuk dari luar dan orang dalam tidak boleh keluar. Budaya religius lagi adalah membaca alquran dan kitab untuk memperdalam agama Islam serta Budaya Religius lebih percaya kepada yang Maha Kuasa ketimbang berita yang simpang siur kebenarannya.
Full Text:
PDFRefbacks
- There are currently no refbacks.