SEBARAN pH TANAH DI DESA SUKARAMAI SEBAGAI STRATEGI OPTIMALISASI LAHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN
Abstract
Desa Sukaramai luas 4.400 ha, dari luasan tersebut didominasi oleh lahan pertanian, akan tetapi
belum dimanfaatkan secara optimal, ditandai dengan rendahnya produktivitas hasil panen. Menurut
dugaan petani di desa Sukaramai, hal tersebut disebabkan oleh tanah yang masam. Masalah utama
yang teridentifikasi adalah tingkat kemasaman tanah (pH) yang tidak ideal. Oleh karena itu,
kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengetahui sebaran pH tanah di desa
Sukaramai. Metode pengabdian dilaksanakan dengan pengambilan sampel tanah, analisis pH tanah,
penyusunan peta sebaran pH, hingga sosialisasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar
lahan memiliki tingkat pH rendah (masam) berkisar antara 4-5. Pemanfaatan peta sebaran pH tanah
ini berhasil meningkatkan pemahaman petani secara signifikan dalam menentukan pola tanam yang
tepat, mengelola pemupukan secara efisien, serta mengidentifikasi lahan yang memerlukan
perlakuan khusus seperti pengapuran. Dengan demikian, petani mampu memaksimalkan
produktivitas lahan, mengurangi risiko gagal panen, dan mendukung ketahanan pangan desa secara
berkelanjutan berbasis data kondisi tanah.
belum dimanfaatkan secara optimal, ditandai dengan rendahnya produktivitas hasil panen. Menurut
dugaan petani di desa Sukaramai, hal tersebut disebabkan oleh tanah yang masam. Masalah utama
yang teridentifikasi adalah tingkat kemasaman tanah (pH) yang tidak ideal. Oleh karena itu,
kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengetahui sebaran pH tanah di desa
Sukaramai. Metode pengabdian dilaksanakan dengan pengambilan sampel tanah, analisis pH tanah,
penyusunan peta sebaran pH, hingga sosialisasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar
lahan memiliki tingkat pH rendah (masam) berkisar antara 4-5. Pemanfaatan peta sebaran pH tanah
ini berhasil meningkatkan pemahaman petani secara signifikan dalam menentukan pola tanam yang
tepat, mengelola pemupukan secara efisien, serta mengidentifikasi lahan yang memerlukan
perlakuan khusus seperti pengapuran. Dengan demikian, petani mampu memaksimalkan
produktivitas lahan, mengurangi risiko gagal panen, dan mendukung ketahanan pangan desa secara
berkelanjutan berbasis data kondisi tanah.
Full Text:
PDFRefbacks
- There are currently no refbacks.