PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) UNTUK PENGURANGAN RESIKO BENCANA DI SEKOLAH PADA DAERAH RAWAN BENCANA DI LINGKUNGAN LAHAN BASAH KABUPATEN BANJAR

Herry Porda Nugroho Putro dan Eva Alviawati

Abstract


Bencana alam terjadi di setiap tempat menimbulkan korban jiwa dan material. Propinsi Kalimantan Selatan secara geografis dikelilingi dan dialiri sungai, sehingga sering terjadi bencana banjir. Daerah ini juga terdiri dari hutan dan gambut, pada musim kemarau sering terjadi kebakaran hutan dan lahan. Kabupaten Banjar adalah daerah di Provinsi Kalimantan Selatan dengan tingkat bencana banjir dan kebakaran hutan-lahan yang tinggi. Anak-anak dalam hal ini siswa di sekolah rentan dan mudah terpapar bencana baik pada saat bencana terjadi maupun setelah bencana terjadi.  Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial mempelajari lingkungan dan aktivitas manusia, melalui pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial siswa dapat belajar mengelola lingkungan dan menghindari bencana saat bencana melanda di daerahnya. Masalah penelitian ini adalah bagaimana bentuk-bentuk bencana dan peta bencana di Kabupaten Banjar, bagaimana peta sekolah di daerah rawan bencana, dan bagaimana model pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial untuk mengurangi resiko bencana. Penelitian ini adalah Riset and Development. Lokasi penelitian di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 dan 4 Sungai Tabuk. Sungai Tabuk adalah Kecamatan di Kabupaten Banjar dengan tingkat ancaman banjir dan kebakaran hutan dan lahan tinggi. Pengumpulan data dilakukan melalui angket, observasi, dan teskompensi siswa. Analisis data dengan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kabupaten Banjar terdapat bencana banjir, kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem dan abrasi. Hasil penelitian pada 140 guru IPS di Kabupaten Banjar menunjukkan 56,6% telah mengintegrasikan bencana alam pada pembelajaran IPS, sehingga model yang dikembangkan adalah pembelajaran scientific inkuiri modifikasi dari penanggulangan bencana, prabencana, peristiwa bencana, dan pascabencana. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan kompetensi siswa tentang pengurangan resiko bencana, dimana t (hitung) > t (table) pada ujicoba pertama di SMPN4 dengan ujicoba kedua di SMPN3. Temuan ini menghasilkan kesimpulan bahwa pembelajaran sainstifik dengan inkuiri efektif untuk pengurangan resiko bencana siswa, relevan untuk pembelajaran IPS, relevan, untuk meningkatkan aktivitas siswa, sehingga model inkuiri efektif untuk meningkatkan kualitas proses dan produk pembelajaran IPS di Sekolah Menengah Pertama. Temuan penelitian ini memiliki implikasi positif bagi pengembangan pembelajaran IPS tentang bencana alam di Sekolah Menengah Pertama. Implikasi praktis temuan penelitian ini adalah peningkatan kemampuan guru IPS dan sosialisasi model inkuiri untuk pengurangan resiko bencana di Sekolah Menengah Pertama.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.