EMISI CO2 DARI LAHAN BUDIDAYA UBI ALABIO YANG DIAPLIKASIKAN PUPUK HIJAU
Abstract
Pemanfaatan gulma rawa sebagai pupuk hijau dinilai menjadi tindakan yang bijak dalam mengelola suatu lahan, mengingat pertumbuhannya yang pesat dan invasif. Namun, beberapa penelitian menyebutkan pemberian pupuk hijau pada lahan pertanian mampu meningkatkan emisi gas rumah kaca (GRK), termasuk emisi karbon dioksida (CO2). Konsentrasi CO2 di atmosfer masih menjadi yang terbesar diantara gas-gas rumah kaca lainnya. Penelitian emisi CO2 dari lahan rawa lebak terutama pada lahan budidaya ubi Alabio masih belum banyak dilakukan. Ubi Alabio itu sendiri merupakan varietas ubi lokal yang hanya tumbuh di daerah rawa lebak dan biasa ditanam saat kondisi surut. Penelitian dengan rancangan acak kelompok disusun untuk mengkaji pengaruh pemberian pupuk hijau gulma rawa terhadap emisi CO2 pada lahan budidaya ubi Alabio. Perlakuan yang diberikan berupa kontrol/tanpa pupuk hijau (M0), eceng gondok (M1), kayu apu (M2), kiambang (M3), eceng gondok + kayu apu (M4), eceng gondok + kiambang (M5), dan kayu apu + kiambang (M6) dengan dosis 35 t.ha-1 untuk masing-masing perlakuan pupuk hijau. Varietas ubi Alabio yang ditanam adalah varietas Putih. Pengambilan sampel gas menggunakan metode sungkup tertutup (closed chamber method) dengan syringe pada interval waktu 10 menit. Sampel gas yang telah diambil kemudian dianalisis menggunakan gas chromatography. Pengambilan sampel gas dilakukan pada 7 dan 60 hari setelah tanam (HST). Pemberian pupuk hijau secara signifikan menyumbangkan emisi CO2 yang lebih rendah dibandingkan dengan control. Aplikasi eceng gondok (M1) menghasilkan emisi CO2 yang lebih besar dibandingkan dengan kayu apu (M2), kiambang (M3), maupun kombinasinya (M4, M5, dan M6).
Full Text:
PDFRefbacks
- There are currently no refbacks.