MENAKAR KERENTANAN DAN KETAHANAN PANGAN KABUPATEN TANAH LAUT SAAT TERDAMPAK PERUBAHAN IKLIM
Abstract
Perubahan iklim (climate change) tidak saja berdampak terhadap produksi tetapi juga aspek sosial ekonomi lainnya. Antipasi dampak perubahan iklim tidak bisa hanya pendekatan secara parsial, temporer dan reaktif saja tetapi harus secara holistik dengan tetap berpijak pada kearifan lokal. Berdasar Global Hunger Indeks (GHI) yaitu indeks pengukur tingkat kerentanan pangan dan krisis pangan, masih menempatkan Indonesia di urutan ke 77 dari 122 negara dengan skor 17,9 atau moderat. Salah satu instrumen untuk dapat memprediksi serta mengelola krisis pangan dalam rangka upaya menghindari dari krisis pangan dan gizi adalah mengukur ketahanan dan kerentanan pangan suatu daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat ketahanan dan kerentanan pangan tingkat Kabupaten saat terdampak perubahan iklim yaitu Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil penelitian menunjukkan desa yang rentan terhadap kerawanan pangan di Kabupaten Tanah Laut dibagi dalam prioritas 1 (rentan tinggi); prioritas 2 (rentan sedang) dan prioritas 3 (rentan rendah). Dari 135 desa/kelurahan di Kabupaten Tanah Laut terdapat 17 desa (12,59 %) yang termasuk desa rentan pangan, dengan rincian; 1 desa (0,74 %) desa termasuk dalam prioritas 1 (rentan tinggi), 1 desa (0,74 %) prioritas 2 (rentan sedang) dan 15 desa (11,11%) desa prioritas 3 (rentan rendah) terhadap kerawanan pangan. Sedangkan 118 desa lainnya sebanyak 87,41 % termasuk desa yang relative tahan terhadap kerawanan pangan pada desa yang bersangkutan. Berdasarkan hasil analisis FSVA Nasional, Indeks Ketahanan Pangan Kabupaten Tanah Laut adalah 81,61. Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Tanah Laut termasuk dalam Kabupaten yang mempunyai Ketahanan Pangan yang kokoh walaupun terdampak perubahan iklim.
Full Text:
PDFRefbacks
- There are currently no refbacks.