FAKTOR RISIKO ANEMIA PADA REMAJA PUTRI DI WILAYAH LAHAN BASAH: STUDI DI DESA SUNGAI ALANG, KABUPATEN BANJAR
Abstract
Anemia pada remaja putri merupakan masalah kesehatan masyarakat global maupun nasional yang
semakin mendapat perhatian karena tingginya kebutuhan zat gizi pada masa pertumbuhan serta
kehilangan zat besi selama menstruasi. Data awal di wilayah lahan basah, khususnya Desa Sungai
Alang, Kabupaten Banjar, menunjukkan prevalensi anemia sebesar 23,54%. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putri,
meliputi usia, tingkat pendidikan, pengetahuan gizi, perilaku diet, dan status gizi berdasarkan Lingkar
Lengan Atas (LILA) serta Indeks Massa Tubuh (IMT). Penelitian ini menggunakan desain observasional
analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 50 remaja putri berusia 12–24 tahun yang dipilih
melalui purposive sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan pengukuran kadar hemoglobin
menggunakan Hb meter. Analisis dilakukan dengan uji korelasi Spearman’s rho dan regresi linear
multivariat. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi anemia sebesar 34%, melebihi ambang batas
masalah kesehatan masyarakat sedang menurut WHO. Analisis bivariat menemukan korelasi negatif
signifikan antara usia dengan kadar Hb (r=-0,405; p=0,004) serta korelasi positif signifikan antara
LILA dengan kadar Hb (r=0,373; p=0,008). Sementara itu, pengetahuan, IMT, dan perilaku diet tidak
menunjukkan korelasi signifikan. Analisis multivariat mengidentifikasi usia (β=-0,459; p=0,000), LILA
(β=0,599; p=0,000), dan IMT (β=-0,354; p=0,033) sebagai prediktor bebas signifikan. Hasil penelitian
menegaskan bahwa anemia pada remaja putri dipengaruhi oleh faktor fisiologis dan status
antropometri, sedangkan faktor pengetahuan dan perilaku diet tidak berperan langsung. Oleh karena
itu, intervensi pencegahan perlu dilakukan secara holistik melalui suplementasi, edukasi gizi terarah,
serta program kesehatan pendukung lainnya.
semakin mendapat perhatian karena tingginya kebutuhan zat gizi pada masa pertumbuhan serta
kehilangan zat besi selama menstruasi. Data awal di wilayah lahan basah, khususnya Desa Sungai
Alang, Kabupaten Banjar, menunjukkan prevalensi anemia sebesar 23,54%. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putri,
meliputi usia, tingkat pendidikan, pengetahuan gizi, perilaku diet, dan status gizi berdasarkan Lingkar
Lengan Atas (LILA) serta Indeks Massa Tubuh (IMT). Penelitian ini menggunakan desain observasional
analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 50 remaja putri berusia 12–24 tahun yang dipilih
melalui purposive sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan pengukuran kadar hemoglobin
menggunakan Hb meter. Analisis dilakukan dengan uji korelasi Spearman’s rho dan regresi linear
multivariat. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi anemia sebesar 34%, melebihi ambang batas
masalah kesehatan masyarakat sedang menurut WHO. Analisis bivariat menemukan korelasi negatif
signifikan antara usia dengan kadar Hb (r=-0,405; p=0,004) serta korelasi positif signifikan antara
LILA dengan kadar Hb (r=0,373; p=0,008). Sementara itu, pengetahuan, IMT, dan perilaku diet tidak
menunjukkan korelasi signifikan. Analisis multivariat mengidentifikasi usia (β=-0,459; p=0,000), LILA
(β=0,599; p=0,000), dan IMT (β=-0,354; p=0,033) sebagai prediktor bebas signifikan. Hasil penelitian
menegaskan bahwa anemia pada remaja putri dipengaruhi oleh faktor fisiologis dan status
antropometri, sedangkan faktor pengetahuan dan perilaku diet tidak berperan langsung. Oleh karena
itu, intervensi pencegahan perlu dilakukan secara holistik melalui suplementasi, edukasi gizi terarah,
serta program kesehatan pendukung lainnya.
Full Text:
PDFRefbacks
- There are currently no refbacks.