PENGARUH FORMULASI BAHAN STERILAN DAN POSISI DAUN PADA KULTUR DURIAN LAHUNG (Durio dulcis)
Abstract
Salah satu jenis durian endemik Kalimantan ada yang memiliki ciri yang unik yaitu kulitnya berwarna merah. Durian jenis ini dinamakan lahung dan termasuk tanaman yang keberadaannya sudah hampir punah sehingga perlu dilakukan konservasi. Salah satu upaya konservasi ex-situ yang dapat dilakukan adalah menggunakan teknik kultur jaringan. Namun perbanyakan secara in vitro untuk tanaman ini belum pernah dilakukan sehingga memerlukan prosedur sterilisasi yang tepat sehingga dapat diperoleh bahan tanam yang steril. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi bahan sterilan dan posisi daun yang tepat untuk kultur daun durian lahung. Penelitian ini didesain menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dua faktor dan diulang sebanyak empat kali. Faktor pertama adalah formulasi bahan sterilan yang terdiri dari lima taraf dan faktor kedua berupa posisi daun yang terdiri atas dua taraf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu muncul kontaminasi dan browning yang paling lama diperoleh dari formulasi sterilan tween 20, fungisida, bakterisida, alkohol 70%. Pada kombinasi antara formulasi sterilan tween 20, fungisida, bakterisida, alkohol 70% dengan daun kedua memberikan persentase eksplan hidup yang lebih tinggi dan persentase kontaminasi yang lebih rendah pada umur 1-4 mst. Sedangkan persentase browning yang lebih rendah diperoleh dari formulasi sterilan tween 20, Bayclin 20%, alkohol 70% pada umur 1-4 mst.
Full Text:
PDFRefbacks
- There are currently no refbacks.